Minggu, 27 Februari 2011

Pak Pos

Oleh: Hujan Tarigan



Pak Pos
 
Saiman nyaris kehilangan pekerjaan. Tigapuluh tahun mengabdi, kini dia terancam diberhentikan. Dengan perasaan pilu dia pacu sepedanya menuju kantor pos pembantu kecamatan.
Begitu sampai di tujuan, Pak Idris, kepala di kantor itu telah menanti dia di depan pintu. Seperti biasa, kantor itu memang sudah sepi, tak lagi dikunjungi orang-orang yang ingin saling berkirim kabar.
Sambil menaikkan celananya yang kedodoran, Pak Idris menyambut kedatangan Saiman.


“Bagaimana Pak Saiman?” tegurnya. Saiman mendekat, membuka topi dan mengeluarkan setangan dari saku celananya.
“Entahlah,” ujar Saiman menggeleng. Diperlihatkannya rasa kecewanya kepada Pak Idris. Keduanya kemudian masuk ke dalam kantor yang kecil.
“Dulu, keranjang ini tak pernah kosong dari surat-surat ya?” ujar Saimam miris ketika melalui keranjang yang biasanya dijadikan tempat transit surat-surat yang akan dikirim.
“Ya, sudahlah, besok slip gaji terakhir akan segera Bapak terima. Sekarang, sebelum akhirnya kantor ini benar-benar ditutup, saya ingin bernostalgia dengan Bapak,” ujar Pak Idris kepada karyawannya yang terakhir itu. Ya, betul-betul karyawan yang terakhir.
“Sejujurnya saya sedih Pak, dengan rencana ditutupnya kantor ini,” ujar Saiman sambil duduk di sebuah bangku panjang, yang biasanya ramai didudukui orang yang mengantre.
“Saya pun begitu Pak Saiman. Tapi apa mau dikata, itu sudah keputusan dari pusat.” ujar Pak Idris yang jauh lebih muda dari Saiman. Sejenak berdua mereka saling diam dalam kenangan.

Setengah jam tenggelam dalam ingatan, tiba-tiba kekhidmatan lamunan mereka berdua terganggu dengan suara dari telpon genggam milik Pak Idris,
“Ya, halo. Bagaimana? Sudah saya sampaikan Pak. Betul Pak. Hm, Begitu ya Pak? Baiklah Pak, saya segera meluncur. Hm, sekitar setengah jam lagi Pak. Sekarang saya masih di kantor pos. Baik Pak….” ujar Pak Idris putus-putus kepada orang di seberang.
“Pak Saiman, agaknya begitu dulu lah, pagi ini saya harus ke kecamatan, ada undangan dari Pak Camat. Besok saya harap Bapak datang lagi,” ujar Pak Idris kepada Saiman sambil mengantongi telepon genggamnya.

Lelaki berkacamata itu kemudian bangkit, diikuti Saiman. Kemudian dia menyodorkan tangannya kepada Saiman. Mereka bersalaman, dan akhirnya berpisah.
Tinggallah Saiman sendirian di kantor kecil yang sebentar lagi ditutup. Disekanya air mata yang tak terasa tumpah membasahi kulit pipinya yang keriput. Begitu konyol, pagi itu, hanya untuk mendengar keputusan dari Pak Idris dia telah mengayuh sepeda sejauh limabelas kilometer.
Saiman bangkit dari duduknya, kemudian berpindah tempat. Disusurinya lantai kantor yang terbuat dari ubin. Pikirannya kacau kemana-mana. Tangan Saiman berhenti di loker dan kotak pos. Diingatnya betapa dulu kotak itu selalu terisi surat-surat. Dengan cekatan tangan Saiman kemudian memilah-milah surat berdasarkan alamat.

Surat-surat dengan amplop yang beraneka warna.

Entah karena harga amplop yang mahal, entah karena si pengirim yang ingin membantu pekerjaan Saiman. Dahulu Saiman memang kerap mendapatkan surat-surat dengan amplop berwarna-warni, kadang-kadang berwarna merah muda, kadang-kadang berwarna biru. Sekali dua kali, akhirnya dia mengerti bahwa surat-surat dengan amplop berwarna itu dikirim oleh sepasang muda-mudi yang tengah dimabuk cinta.
“Hahaha,” Saiman tergelak. Betapa dia merindukan masa itu, apalagi, ketika suatu kali Saiman bertemu dengan salah seorang pengirim surat beramplop warna yang datang ke kantor pos.
“Tolong sampaikan secepatnya Pak, saya rindu,” kata perempuan muda suatu waktu tanpa malu-malu. Harapan itu membuat Saiman bersemangat mengayuh sepedanya untuk menyusuri jalanan dan mencari alamat yang dituju.

Lain lagi suatu waktu, ketika Saiman melintas di depan sebuah rumah, seorang perempuan muda yang lain memberhentikan sepedanya. Dengan kaget Saiman mengerem dan berhenti persis di depan perempuan itu,
“Adakah surat untuk saya?” tanya perempuan muda itu
“Surat?” tanya Saiman, sambil turun dari sepedanya untuk memeriksa surat bawannya,
“Berwarna merah muda,” kata perempuan itu. Dengan cermat, Saiman memeriksa semua surat berwarna merah muda yang ada di tasnya.
“Wah, tidak ada Neng, barangkali amplopnya berwarna lain,”
“Tidak kok Pak, coba diteliti dulu, soalnya dalam surat terakhir saya, saya minta agar dia membalasnya dengan amplop berwarna merah muda,” ujar perempuan itu.
Lima kali Saiman membolak balik tumpukan surat beramplop merah muda, namun hasilnya tetap sama. “Wah barangkali besok baru sampai. Sabar ya Neng, kalau ada, pasti saya antar,” ujar Saiman mendinginkan.

Begitulah, Saiman memang punya jawaban yang memuasakan pada perempuan-perempuan muda yang tengah menantikan kabar dari seseorang nun jauh di sana.

Tapi agaknya tidak untuk sekarang. Sejak meluasnya teknologi, pemuda-pemudi di kecamatan kami seolah melupakan Saiman. Tak ada lagi perempuan muda dengan wajah penuh harapan yang muncul di kantor pos untuk menitipkan surat beramplop merah muda. Begitu juga, tak ada lagi, orang yang nyaris kehilangan kesabaran penantian, menghentikan sepeda Saiman di tengah jalan.

Saiman menjauhi loker dan keranjang yang sudah melompong. Empat bulan sudah kantor itu tak beroperasi. Selama itu pula Pak Idris telah meyakinkan kepada pegawai-pegawai di sana bahwa, lebih baik bagi pegawai-pegawai itu pindah dan mencari pekerjaan baru. Termasuk kepada Saiman.
Di depan sebuah meja, Saiman tertegun melihat bantalan dan stempel cap kantor pos yang sudah dikepak rapi dalam sebuah kardus mi instan. Dahulu, Si Karto, teman sejawatnya selalu berada di bangku ini. Dengan semangat Karto menghantamkan palu stempel ke amplop surat-surat yang siap dikirim. Pekerjaan itu dilakukan Karto dari pagi hingga siang hari.

“Akhir-akhir ini saya jadi lebih semangat menghantamkan stempel ke perangko,” ujar Karto yang dua bulan lalu menjadi almarhum.
“Kenapa begitu Mas Karto?” tanya Saiman sambil memilah-milah surat ketika itu.
“Iya, habisnya, orang yang ada di perangko ini membuat saya kesal,” ujar Karto sambil menghantamkan keras-keras palu stempelnya di perangko senilai Rp 300,- yang bergambar Soeharto
“Lho? Kok kesal? Sampeyan jangan main-main lho.” tanya Saiman keheranan.
“Habisnya, dari tahun ke tahun, presidennya dia melulu. Bosan saya,” ujar Karto sambil tertawa. Mereka berdua tertawa.

Sambil terus memandangi kardus mi instan yang berisi peralatan mendiang Karto, Saiman tertawa sendiri. Wajahnya berubah gusar, ketika dia ingat percakapan terakhirnya dengan mendiang Karto beberapa bulan sebelum sakit lever merenggut nyawa Karto.
“Mas, yo saiki, kantor pos wis sepi, yo piye iki?” tanya Saiman.
“Lha, sepi ra sepi, yo kita tetep dapat gaji tha?”
“Iya sih, tapi piye, aku kok nda merasakan nikmatnya dapat duit dari mengeluarkan keringat ya?”
“Ya salah mereka sendiri, ada kantor pos, kok nda mau kirim surat. Lagi pula, saya juga rindu memukul gambar presiden yang baru e,” seloroh Karto.
“Lha iku, karena Sampeyan sing terlalu semangat memukul gambar presiden,” ujar Saiman.
“Yo bukan tha Mas. Orang-orang tak mau datang lagi ke sini, karena mereka males mbeli perangko. Lha, perangko itu mahal, dan sampainya juga bisa dua sampai tiga hari. Dalam dunia ekonomi, itu pemborosan, tidak efisien tha?”
“Yo opo Kang Mas Karto iki, efisien, efisien opo tha?”
“Begitu kata anak saya yang kuliah di Jakarta. Daripada ke kantor pos, tulis surat, beli amplop dan beli perangko, mending orang-orang di sini beli telepon yang bisa kirim tulisan itu lho. SMS,” ujar Karto.
Nafas Saiman sesak. Kepalanya tiba-tiba berat seperti kena pukulan stempel milik Mas Karto.
“SMS” Saiman mengulang kata-kata yang diucapkan Karto beberapa bulan lalu.

Hantu itulah yang telah membunuh pekerjaan Saiman. Membunuh pekerjaan Saiman berarti membunuh Saiman. Saiman memang tak pernah mengerti dengan berkembangnya teknologi di kampungnya. Yang dia tahu, sejak orang-orang mengenal sistem komunikasi yang lebih canggih, Saiman jadi tak bisa membantu orang lagi. Padahal, membantu orang adalah hobinya.

“Iyo Mas, sejak orang-orang di sini mengenal yang namanya ekspedisi ekspres, tidak ada lagi yang menitipkan barangnya kepada kita. Tak ada lagi orang-orang tua di sini yang mengirimkan paket berisi kebutuhan anaknya yang belajar di kota. Dan tak ada pelajar yang merantau menderita, menunggu kiriman orangtuanya dari desa, karena semuanya tinggal pergi ke bank dan mentransfer uang dari sana. Hari itu dikirim, hari itu sampai. Seketika wessel jadi tak punya harga,” ujar Saiman kepada ruang kosong yang hanya diisi dia seorang.

Jam di dinding kantor pos menunjukkan pukul duabelas siang. Biasanya di jam seperti ini Saiman masih berada di jalan, mengitari jalanan mencari alamat-alamat baru dari pengirim-pengirim yang tak pernah dia tahu. Sampai akhirnya dia berhenti di sebuah rumah makan. Entah rumah makan dimana saja.
Banyak jalan, yang dilewatinya, tapi tak ada sebuah tempat pun yang diingat Saiman.

“Pikun, aku sudah pikun,” ujarnya pada diri sendiri sambil beranjak meninggalkan kantor pos.
Di halaman kantor pos, Saiman menyambar sepedanya. Kemudian, dengan berat langkah dia mulai menenteng sepenya keluar dari halaman kantor yang sudah beberapa hari ini sepi dari pegawai.
“Mau kemana Pak Saiman?” tanya seseorang yang bertugas menjaga kantor pos.
Saiman kaget, kemudian menoleh ke arah asal suara.
“Sebentar, saya mau keliling dulu,” ujar Saiman yang sudah ada di atas sepeda. Sejurus dia kayuh sepedanya dan menghilang.

Pukul empat sore, Saiman masih berputar-putar dengan sepeda tuanya. Sebuah sepeda hadiah dari kepala kantor pos yang lama. Sepeda itu diberikan karena pengabdian Saiman selama duapuluhlima tahun sebagai pengantar pos. Yah, tahun perak, begitu kira-kira.

Dengan lelah, Saiman terus mengayuh sepeda itu. Masuk keluar gang sempit, bertemu jalan besar, kemudian menghilang di balik jemuran orang, kembali tampak melintasi sisi rel kereta api, kemudian menghilang lagi di ujung jalan yang lain lagi.

Saiman terus mengayuh, melewati waktu yang telah lalu, bertemu dengan orang-orang yang sudah tak lagi memerlukan jasanya, berpapasan dengan kenderaan milik FedEx, melintasi warung telepon, kemudian berhenti di kali untuk buang air.

Lepas maghrib barulah orang tua itu muncul di depan pintu rumahnya. Istrinya yang tengah sholat tak hirau dengan suara Saiman, ketika lelaki itu memanggil-manggil nama istrinya.
“Pon, Poniyem,” panggil Saiman. Tapi Poniyem tak muncul juga. Saiman memasukkan sepedanya ke dalam rumah.
Tak berapa lama, Poniyem muncul juga dari dalam kamar.
“Piye Pak keputusannya?” tanya Poniyem sambil membuka dan melipat mukenanya.
“Iyo, besok aku masih mengantar surat,”
“Lho? Piye tha? Omongnya sudah mau ditutup, kok masih antar surat?” tanya Poniyem lagi.
“Yo ndak tahu bu ne. Ah, aku mau mandi, terus mau tidur,” ujar Saiman sambil tergopoh-gopoh meninggalkan Poniyem yang masih bingung.

Tengah malam, Saiman bangun. Dilihatnya Poniyem masih terlelap tidur. Perlahan dia bangkit meninggalkan tempat tidur. Dengan mengendap-endap, lelaki renta itu pergi ke dapur tempat sepeda tuanya diparkir. Dengan senyum dan sorot mata yang berbinar dia berbisik, “Kita segera mengantar surat lagi,”
Tangan Saiman kemudian meraba kancing tas besar yang terletak di bangku belakang sepedanya. Sedikit kesusahan, akhirnya dia bergembira juga ketika berhasil menemukan sesuatu dari sana; segepok amplop beraneka warna.

Pagi harinya, matahari belum benar-benar muncul di desa kami. Namun Saiman telah pamit kepada istrinya.
Dengan semangat dia kayuh sepedanya mendahului waktu, semakin dia mengayuh, semakin dia merasa kemudaannya pulih kembali.

Kantor pos masih sepi, Saiman masuk dan membuka semua jendela yang ada di sana. Dengan semangat, dia mengeluarkan isi tas besarnya; segepok amplop beraneka warna. Dibukanya loker milik pengganti Karto, masih terdapat beberapa sisa perangko, mulai dari gambar binatang sampai gambar bekas presiden ada di sana. Dikeluarkannya semua.

Diraihnya kanji dan sedikit air. Saiman mengaduk. Dia mengaduk semua harapan dan perasaannya di sana.
Sejumlah alamat kemudian dituliskannya di atas amplop-amplop yang kemarin dibelinya dari warung-warung yang ada di seluruh kecamatan.

:untuk Surti dari Bejo, untuk Wasno kepada Ratna, dari Sartono untuk Ngadijah, kepada Dinda Mariam dari Kanda Sobron, Mas Junaidi untuk Tukijo, Ananda Rohman dari Ayahnda Sutet, Kepada Masri untuk Syawal, untuk………… dari……….untuk……… dari……… kemudian, Saiman menulis: dari Saiman untuk Mas Karto.

Setelah semua alamat ditulis, saatnya Saiman membubuhkan stempel di atas amplop yang telah berisi pengirim dan nama yang dituju.

Dengan semangat Saiman menghantamkan stempel yang biasa dipakai Karto ke perangko di pojok kiri atas amplop. Perangko-perangko lama, bergambar kembang, buah, binatang hingga satu dua yang bergambar bekas penguasa Orde Baru juga dilekatkannya dan dibubuhi stempel. Saiman bekerja persis seperti Karto memukulkan palu stempelnya ke atas perangko.

Pukul delapan pagi, Saiman sudah selesai mengerjakan semuanya. Semua amplop yang bakal dikirimnya sudah teronggok rapi di atas meja. Baru beberapa menit dia duduk mengantur nafas, Pak Idris muncul di depan pintu.
“Pak Saiman sudah di sini?”
“ Sudah Pak, dari pagi malah,” jawab Saiman.
“Hm, iya, seperti janji saya kemarin, saya mau memberi ini, tanda jasa sekaligus semacam bonus, begitu,” ujar Pak Idris sembari menyodorkan surat keterangan dari kantor pos pusat serta sebuah amplop berisi uang. Saiman, diam saja.
“Terima kasih Pak, atas pengabdiannya. Meski jaman bertambah maju, nampaknya memang ada yang harus mundur,” ujar Pak Idris. “Ditutupnya, kantor pos ini membuktikan itu. Tenang saja Pak, jika nanti saya punya pekerjaan yang bagus, saya akan panggil Pak Saiman.”
“Ya, sama-sama Pak Idris, saya juga. Sebenarnya, saya cinta dengan pekerjaan yang sekarang ini, tapi, sayang saja…” ujar Saiman terputus.
“Sayang apanya Pak Saiman?”
“Sayang saja, kalau hari ini saya tak mengantarkan surat-surat itu,” kata Saiman sambil menoleh ke arah tumpukan amplop di atas meja kerja Karto.
“Apa? Surat?” tanya Pak Idris tak percaya sambil meninggalkan Saiman dan menghampiri amplop-amplop yang sudah tersusun rapi.
“Bagaimana bisa?” tanya Pak Idris sambil membaca amplop-amplop itu. “Mana alamatnya?” sambung Pak Idris.
Saiman menghampiri Pak Idris. “Boleh saya mengantar surat-surat ini?”
“Wah, Pak Saiman jangan bercanda, suratnya kan tidak punya alamat, lagi pula, perangkonya perangko koleksi.”
“Biar saya cari,” kata Saiman menawarkan diri.
“Cari? Cari di mana?” tanya Pak Idris takjub. Dengan cepat Saiman mengambil tumpukan surat itu.
“Boleh ‘kan Pak?” tanya Saiman memelas. Pak Idris mengerutkan dahi. Dia tak habis pikir dengan permintaan Saiman.
“Bob..boleh lah..” jawab Pak Idris terbata-bata.
“Terima kasih Pak,” ujar Saiman sambil balik badan meninggalkan Pak Idris yang masih terpana dengan kelakuan ganjil orang tua itu.

Pukul dua siang, Saiman masih mengayuh sepedanya. Kali ini dia tak masuk keluar gang sempit dengan perumahan yang mulai menjamur padat, tak pula melewati jalanan beraspal yang sudah dilalui banyak sepeda motor, tak pula berpapasan dengan mobil FedEx, atau pun warung telepon. Saiman mengayuh, terus mengayuh, masuk ke dalam dunia, menjadi cerita, menjadi legenda.


Palmerah, 6 Januari 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Pesan

Disclaimer

Selamat datang di C3 Hujan Tarigan. Semua tulisan yang ada di blog ini dapat diapresiasi secara bebas. Silakan mengutip sebagian atau seluruh tulisan asal dengan catatan menyebutkan nama penulis dan alamat Catatan Catatan Cacat. Terima kasih atas kunjungan Anda. dan jabat erat dari Saya.